Bung Karno yang saya tulis disini bukanlah Soekarno atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Seorang Presiden yang mampu memukau dan menyihir rakyatnya melalui berbagai orasi dan pidatonya yang menggelegar bagai halilintar, mengalir bagai aliran air, dan mendayu – dayu bagai alunan lagu baik ketika melawan penjajah Belanda, penjajah Jepang maupun setelah Agresi Militer Belanda selesai. Dan karena kepiawaiannya tersebut beliau memperoleh julukan Singa Podium, Penyambung Lidah Rakyat, dan sebagainya. Sebuah julukan yang pantas disandang oleh beliau, karena dengan aumannya maka rakyat bergerak, bergabung menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam usaha merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah.
Bung Karno yang akan saya bahas disini adalah Rano Karno, salah seorang pelaku industri perfilman nasional di Indonesia yang sejauh ini berdasarkan hasil penghitungan suara sementara Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Tangerang menduduki posisi pertama, yang berarti apabila tidak ada desakan dari pihak manapun yang kecewa dengan kekalahannya akan segera dilantik menjadi wakil bupati Tangerang periode 2008-2013. Rano Karno tentu berbeda dengan Soekarno, jauh sekali. Baik dari segi kharisma, keahlian mengelola massa, keahlian berpidato, kecerdasan, bahkan dari segi tampang dan kejantanan. Namun konyolnya, sambutan yang diterima ketika dia menjadi anggota sebuah parpol besar yang mengusung dirinya menjadi wakil bupati Tangerang adalah kesamaan Rano Karno dengan Soekarno yaitu sama – sama memperoleh sebutan Bung Karno sesuai dengan ayah dari Pemimpin Umum Parpol tersebut.
Saya bilang konyol karena menyamakan seseorang yang jelas – jelas memiliki perbedaan kemampuan yang sangat besar dengan sang Proklamator. Bahkan menurut saya sangat konyol mengangkat artis sinetron yang tidak memiliki sejarah kegiatan yang berhubungan dengan bidang pelayanan masyarakat secara langsung kecuali memberikan hiburan dalam bentuk sinetron yang menimbulkan efek kecanduan menonton televisi hingga meninggalkan semua aktivitasnya, sebuah akibat buruk. Peranan artis dalam kancah politik saat ini lebih banyak didasari oleh terdongkraknya perolehan suara parpol bersangkutan tanpa mempertimbangkan kapabilitas dan kapasitasnya sebagai seorang politikus yang berpihak kepada rakyat. Pertimbangannya hanya uang dan kepopuleran.
Bagaimanapun juga, apabila nantinya Bung Karno benar – benar menjadi wakil bupati Tangerang dan telah dilantik secara resmi, semoga mampu menjadi asisten sutradara yang baik dan mampu mengimplementasikan semua kebijakan sang sutradara dengan cerdas,tepat, cepat, dan berpihak kepada kepentingan seluruh lapisan masyarakat.
Hidup Bung Karno, Hidup Bung Asisten Sutradara, Hidup Bung Pembantu, Hidup Bung Pengekor!!!
Filed under: Berita Utama | Tagged: Agresi Militer, Asisten Sutradara, Belanda, Bung Karno, Bupati, Jepang, Kemerdekaan, Penjajah, Penyambung Lidah Rakyat, Pilkada, Proklamator, Rano Karno, Si Doel, Singa Podium, Soekarno, Sutradara, Tangerang, Wakil Bupati
selamet deh untuk rano karno. Semoge bisa menjadikan kabupaten tangerang maju….
Si Doel anak betawi
Si Doel anak sekolahan
Si Doel anak kantoran
Si Doel jadi pejabat
semoga Si Doel jadi anak yang amanah yo