Rental Kendaraan TNI

Kecelakaan kendaraan angkut udara TNI kembali terjadi, entah yang ke berapa, yang pasti jumlah  kendaraan udara TNI dan pekerjaan bagi para perwira muda TNI AU yang baru lulus Sekolah Penerbang khususnya semakin berkurang. Mungkin mereka akan di alih fungsikan menjadi Office Boy atau Pengasuh Anak di rumah para pejabat Militer baik di Angkatan Darat, Angkatan Laut, maupun Angkatan Udara. Atau mungkin menjadi bodyguard para pengusaha pengutang pajak yang menikmati sebagian besar fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Bisa juga menjadi bandar narkoba, cukong kayu, bandar judi, beking lokalisasi, dan lain sebagainya. Itu semua bagi orang – orang yang memiliki mental bajingan, namun yang bermental “putih” mungkin…mungkin…akan jadi dosen, tukang ojek, sopir mikrolet, sopir taksi tembak, dan pekerjaan sejenis yang tergolong halal sesuai standar masyarakat yang mengimplementasikan dengan benar ajaran agama yang diyakininya.

Kecelakaan Helikopter TNI Angkatan Udara di daerah Riau,  beberapa waktu yang lalu kembali memunculkan opini penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Bagi beberapa orang kegiatan penggunaan fasilitas negara seperti penggunaan helikopter TNI AU merupakan sebuah tindakan yang tidak pantas, korupsi, dan harus di hentikan. Fasilitas negara hanya diperuntukkan bagi kepentingan negara, seperti kegiatan sosial (pengiriman bantuan ke daerah bencana, Search and Rescue), kunjungan kenegaraan, pengamanan objek vital, dan lain sebagainya yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Jadi penggunaan helikopter TNI AU untuk meninjau perkebunan kelapa sawit di daerah Riau oleh masyarakat sipil apalagi warga negara asing amat sangat di tabukan.

Sebenarnya penggunaan kendaraan TNI untuk kepentingan pribadi atau lembaga sering dan banyak terjadi di masyarakat kita. Pemakaian  truk untuk mengangkut barang2 rumah tangga ketika pindahan rumah, bus TNI untuk kegiatan kondangan, mudik,  maupun rekreasi atau karya wisata sebuah lembaga pendidikan bahkan helikopter TNI seperti saya sebutkan di atas.  Ada harga yang harus dibayar untuk menggunakan berbagai fasilitas di atas. Lumayan mahal, karena yang di sewa bukan hanya kendaraan tetapi juga jasa pengamanannya. Bagaimana tidak, saat ini masih banyak orang yang takut, segan, dan hormat kepada institusi TNI meskipun mereka tidak tahu banyak siapa dan apa yang menghuni institusi tersebut.

Namun, di sisi yang lain kita juga harus melihat bahwa kesejahteraan seorang prajurit TNI masih jauh di bawah standar kehidupan masyarakat pada umumnya. Di atas telah saya singgung, bagi prajurit yang memiliki kesucian hati, mereka akan melakukan berbagai kegiatan positif bagi diri mereka dan masyarakat sekitarnya. Apabila pembayaran terhadap penggunaan berbagai fasilitas tersebut  masuk ke kas lembaga masing – masing dan digunakan secara bersama untuk mensejahterakan semua anggota, bagi saya itu semua masih dalam batas kewajaran. Akan tetapi, apabila masuk ke rekening pribadi, maka itu sudah tidak wajar dan harus di hajar…

Mungkin pendapat saya berbeda dengan issue reformasi TNI dan pembekuan berbagai macam bisnis TNI di Indonesia yang memang sebagian besar keuntungannya masuk ke kantong para pengurus puncaknya dan tidak mencapai sasaran hingga ke prajurit terendah. Karena saya melihat, prajurit TNI juga manusia – bukan hanya rocker – yang harus memnuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga yang mereka tanggung. Semoga saja nantinya ada beberapa pendapat dan tindakan yang dapat memberikan solusi bagaimana membantu kesejahteraan prajurit tanpa memberikan desakan kepada pemerintah untuk memenuhinya.

Niat Ikhlas, Hati Bersih, Tindakan Nyata.

One Response

  1. pilot helikopternya yg meninggal itu anak SMA TN angkatan ke – 4. kasian amat … :( ….

Leave a Reply