Bangsa “Tempe” yang Kehilangan Tempe

Bangsa “tempe”, saat ini barangkali sering terucap dalam setiap perkataan, ulasan, diskusi, dan caci maki masyarakat di sekitar kita, termasuk di dalamnya para pejabat negara. Padahal menurut pengertian saya, bangsa “tempe” adalah sebuah bangsa yang diibaratkan bagai sosok yang mudah diinjak-injak (seperti proses pembuatan tempe) oleh bangsa lain. Bangsa yang lemah mental, tidak memiliki kepribadian, dan bangsa yang tidak memiliki pijakan yang kuat untuk melangkah, sehingga mudah terombang – ambing dan dikendalikan oleh pihak lain. Bagi masyarakat umum, ucapan bangsa “tempe” merupakan umpatan terhadap kondisi yang saat ini mereka alami di negeri ini dengan sulitnya memperoleh minyak tanah, mahalnya bahan makanan pokok dan kesulitan mendapatkan pelayanan publik. Namun, ketika ucapan tadi keluar dari mulut seorang pejabat publik, apakah makna yang tersirat dari ucapannya? entahlah…semoga tidak seperti pengertian yang saya pahami di atas.

Beberapa hari ini, kelangkaan kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Makanan favorit sebagian masyarakat Indonesia, termasuk saya, yang memenuhi standar 4 Sehat 5 Sempurna. Makanan murah berprotein tinggi sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak mampu membeli telor, daging ayam, maupun daging sapi. Apabila ini tidak segera teratasi, maka…bangsa “tempe” ini akan marah besar..!!! Dengan adanya tempe, masyarakat melupakan ketidakmampuan mereka untuk mengkonsumsi daging atau telor, dengan tempe makanan apapun akan terasa lebih maknyusss, dengan tempe masyarakat Indonesia dan bangsa ini tidak akan lagi menjadi bangsa “tempe”, dengan tempe dan perut kenyang masyarakat tidak akan banyak menuntut.

Tempe telah menjadi makanan khas Indonesia sejak jaman dahulu kala. Meskipun hak paten merupakan hak milik bangsa lain, bangsa yang pernah menjadi penjajah negeri ini, yang merampok kekayaan negeri ini, termasuk tempe. Masyarakat secara tradisional dan turun temurun membuat dan meramu kedelai hingga menjadi sebuah bentuk makanan yang enak, bergizi, dan gampang ditemui dalam berbagai menu masakan. Ketiadaan bahan baku pembuatan tempe ini, yang disebabkan makin meningginya harga kedelai di pasaran membuat para pengrajin tahu dan tempe berhenti berproduksi karena harga jual pasti akan mengikuti kenaikan harga bahan baku.

Kelangkaan ini saya tidak begitu pasti apa yang menjadi penyebanya, semoga saja bukan ulah para spekulan nakal yang mencari keuntungan sebanyak – banyaknya bagi dirinya sendiri atau bukan karena beberapa pejabat publik ingin menghilangkan kata – kata bangsa “tempe”. Semoga, pemerintah dapat mengambil tindakan dengan cepat untuk mengatasi keadaan ini. Semoga, tempe dapat segera tersaji di hadapan kami setiap hari. Semoga…., semoga…., dan semoga…. janjiku….janjimu….tidak pernah sama. Bersamamu, banyak rakyat makin melarat!!!

Leave a Reply