Sedih, trenyuh, pedih hati ini setiap kali melihat tayangan renovasi sekolah di salah satu televisi nasional. Kondisi sekolah yang akan diperbaiki sebelumnya tidak terawat dan rusak: genteng bocor, dinding jebol, meja kursi hancur, papan tulis pecah dan ketiadaan fasilitas penunjang pendidikan lainnya terekam dalam ayunan kamera sang fotografer. Bahkan, para siswanya pun kadang masih ada yang menggunakan seragam seadanya, tanpa sepatu maupun tanpa seragam merah putih. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan sekolah yang akan melakukan kunjungan untuk menyambung tali silaturahmi, menularkan sedikit ilmu, membagi sedikit rejeki bagi para guru dan siswa yang kekurangan, dan…memamerkan ’sedikit’ kekayaan mereka. Fasilitas pendidikan serba lengkap, modern dan canggih, seragam tersetrika dengan mulus dan rapih, kulit halus dan bersinar, sepatu tidak ada yang terlihat berlubang pada ujung kakinya.
Wajah pendidikan di Indonesia saat ini menurut saya, amat sangat berpihak kepada masyarakat yang memiliki banyak duit dalam kantong baju dan rekening bank mereka. Sedikit sekali kesempatan bagi masyarakatberpenghasilan rendah untuk dapat menyekolahkan anak – anak mereka hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagaimana mungkin bisa bersekolah tinggi kalo biaya pendidikan sekolah dasar saja terlalu mahal bagi mereka.
Banyak anak Indonesia, salah satunya tergambar dalam tokoh yang berada dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan para juara olimpiade nasional maupun internasional, satu – satunya yang membuat mereka kalah adalah tiadanya ‘kesempatan’ untuk meraih pendidikan berkualitas.
Dahulu, ada sekolah tanpa biaya pendidikan (gratis) dengan sistem pendidikan yang bagus dengan sedikit ‘bumbu’ semi militernya, SMA Taruna Nusantara. Saat itu, semua anak dengan kecerdasan yang tinggi dari golongan keluarga manapun memiliki kesempatan yang sama untuk dapat merasakan pendidikan disana. Anak pejabat sipil, anak pejabat militer, anak pengusaha, anak pedagang, anak guru, anak petani, atau anak ‘calo’ bus antar kota dengan penghasilan pas2an untuk menyekolahkan 4 (empat) orang anaknya seperti diri saya bersaing memperebutkan tempat di SMA Taruna Nusantara. Saat ini, sebagian besar yang bersekolah di sana hanyalah anak – anak orang kaya yang mampu membayar sebesar kurang lebih Rp 1.750.000,- per bulannya belum termasuk uang gedung dan sumbangan lainnya.
Pemerintah memang sudah memberikan alokasi pendidikan yang cukup besar dalam APBN dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, namun keberlangsungan pendidikan berkualitas di Indonesia tidak akan dapat selamanya bergantung kepada pemerintah. Peran serta masyarakat salah satunya Yayasan Nurani Dunia, salah satu bank yang menjadi sponsor program tayangan televisi renovasi sekolah, GNOTA, maupun gerakan penggalangan dana oleh alumni beberapa sekolah bagi calon siswa di almamaternya; salah satunya Alumni SMA Taruna Nusantara yang tergabung dalam IKASTARA memberikan beasiswa pendidikan bagi siswa berprestasi yang tidak mampu bersekolah di SMA Taruna Nusantara, semoga akan mampu menggerakkan bangsa ini menuju kesejahteraan.
Ingin bersatu, berjuang dan berkarya lebih banyak dalam pembangunan menurut hati nurani demi kebangkitan bangsa di masa yang akan datang menuju masyarakat yang adil, sejahtera, dan demokratis. Semoga Tuhan menunjukkan jalan untuk mewujudkan cita – cita “Wijaya Foundations”. Aminnn…
Filed under: Pendidikan | Tagged: Adil, APBN, Beasiswa, Demokratis, Foundation, GNOTA, Hati Nurani, Ikastara, Kebangkitan Bangsa, Nurani Dunia, Pendidikan, Perjuangan, Sejahtera, SMA Taruna Nusantara
assalamualaikum,
mas wij, paling tidak ada 3 model pembiayaan pendidikan di dunia ini.
1. pendidikan gratis sampai dengan tingkat doktor. nah yang ini banyak diterapkan di negara – negara skandinavia sana dan beberapa negara timteng.
2. pendidikan gratis ataupun pendidikan murah. misalnya saja negara – negara seperti belanda dll.
3. pendidikan bayar penuh. misalnya saja Amerika Serikat, Indonesia (dalam proses) dll.
nah kalo kita memang ingin demokratis, kenapa kita malah niru yang Amerika Serikat, kenapa gak niru seperti negara – negara skandinavia dll.
Dalam Islam, pendidikan itu gratis bagi siapapun juga. Baik dia itu kaya, miskin atau golongan apapun lah. Pokoknya digratiskan. Ini tentu bukan karena enaknya begitu, tapi praktek seperti itu telah dijalankan berdasarkan contoh dari Rasul saw.
Dulu Rasul membebaskan budak tawanan perang dengan ganti mereka harus mengajari baca tulis kepada kaum muslimin. Dari sinilah, seterusnya praktek itu dijalankan turun temurun untuk menggratiskan biaya pendidikan oleh para khalifahnya dalam bingkai khilafah Islam.
so saya pikir, berharap pendidikan gratis dalam bingkai sistem kapitalis yang menomorsatukan modal adalah mustahil.
wassalam, terus berkarya mas wij!
*so saya pikir, berharap pendidikan gratis dalam bingkai sistem kapitalis yang menomorsatukan modal adalah mustahil.*
SMA saya dulu gretongan lho mas
gretongan itu apa ya ?
Kalau sempat, silakan jalan-jalan di Kabupaten Jembrana di Pulau Bali. Dengan APBD terendah kedua se-Propinsi Bali, pendidikan dan kesehatan sudah digratiskan.
Juga coba lihat-lihat di Kabupaten Sinjai Propinsi Sulawesi Selatan, pendidikan juga sudah digratiskan.
Jadi masalah kapitalis atau bukan, masalah pembiayaan pendidikan itu tergantung dari niat pemerintahnya saja…
Yang jelas, sebenarnya pemerintah bisa kok menggratiskan pendidikan, lha menalangi utangan Koruptor melalui BLBI saja bisa
Untuk kondisi sekarag,bagaimana kalau sekolah murah dari SD sampai SMA. Kuliah mahal s-1 mahal dikit gpp. Namun pemerintah nyediain kampus diploma murah untuk menampung siswa yang tidak banyak uang yang berorientasi pada kerja. Membangun peradaban Islam seharusnya tidak menjadikan masalah gratis nggak gratis msalah utama, namum bagaimana mereka belajar dengan benar dan berkualitas. Mengomentari mas wisnu –Membebaskan perang itu khan juga sebuah “bayaran”–Pertanyaan
Ya…tapi coba lihat sekarang berapa sih biaya untuk masuk S1 di ITB, UI, UGM, UNAIR, IPB, dll.
saya yang kuliah di ITB sendiri yang merasakan. angkatan – angkatan di bawah saya jauh lebih sengsara lagi.
kalo dulu cewek UNPAD sering mencari pacar atau calon suami anak ITB karena masa depannya cerah gitu katanya. Tapi sekarang, gak usah tunggu nanti, wong sekarang aja dah cerah (artinya yang masuk 90% adalah kalangan menengah ke atas).
so, pendidikan gratis saya pikir memang mustahil dalam athmosfer kapitalistik ala amerika saat ini.
wassalam,
Pendidikan itu bukan cuman di Universitas mas…jadi jangan menggeneralisir sebuah kondisi dan memandang dari satu kacamata saja.
Percuma juga lulusan univesitas tapi tidak memahami apa yang diajarkan dan tidak mampu beradaptasi di dunia kerja. Mungkin malah lebih baik lulusan STM yang mampu mendiri dan menciptakan lapangan kerja baru.
Jadi, tidak tepat mengatakan sesuatu itu mustahil atau tidak, apalagi mengaitkan dengan sebuah hal yang global seperti kapitalisme atau islamisme dengan hanya melihat dari satu sisi…
Semua tergantung kebijakan pemerintah, tapi khan gak mungkin kita harus selalu bergantung dengan pemerintah.
kalo bisa jalan sendiri malah lebih bagus…:D
ada yang butuh guru….gratisan nih…huehueheuhue
SMA Taruna Nusantara? memang kacau tuh sekolah. maunya duit doank!